Tradisi Maanta Nasi Sapek Dalam Adat Pernikahan di Nagari Rao Rao Kecamatan Sungai Tarab Kabupaten Tanah Datar

Authors

  • Nazhifah Amalia Institut Seni Indonesia Padangpanjang
  • Febri Yulika Institut Seni Indonesia Padangpanjang

DOI:

https://doi.org/10.47134/bai.v2i3.4726

Keywords:

Maanta Nasi Sapek, Tradisi Pernikahan, Makna Simbolik, Sosial Budaya

Abstract

Tradisi maanta nasi sapek adalah sebuah kebiasaan yang di lakukan dalam rangkaian adat pernikahan di Nagari Rao Rao, Kabupaten Tanah Datar. Tradisi ini sebuah kebiasaan yang di lakukan secara berulang dan memiliki peran penting dalam adat pernikahan, nasi sapek adalah nasi kuning yang di hiasi dengan seekor ayam. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana prosesi tradisi maanta nasi sapek dan makna simbolis dalam tradisi tersebut. Temuan penelitian menunjukkan bahwa maanta nasi sapek bukan sekadar simbol pemberian makanan, namun juga melambangkan penghormatan, permohonan restu, dan penguatan hubungan antara dua keluarga besar. Tradisi ini menegaskan nilai-nilai kerjasama, kesopanan, dan tanggung jawab sosial dalam masyarakat. Jenis penelitian yang di gunakan adalah jenis penelitian kualitatif teknik pengumpulan data yang mengamati kondisi objek secara alami dan teknik pengumpulan data yang di lakukan dengan menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Teori yang di gunakan adalah teori interpretatif simbolik oleh Clifford Geertz yang mengartikan betapa pentingnya makna, simbol, dan pemahaman dalam mengekspolari tindakan manusia dalam interaksi sosial. Dalam metode ini penulis menggunakan teori kebudayaan sebagai sistem simbol, yaitu kebudayaan yang tersusun berdasarkan makna yang terkandung dalam tradisi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi manta nasi sapek di persiapkan oleh pihak bako (keluarga dari pihak ayah) mempelai wanita, nasi sapek ini di bawa dengan cara di taruh di atas kepala yang kemudian diarak oleh bako pihak mempelai wanita dan di ikuti oleh anggota keluarga dan kerabat lainnya, kemudian di serahkan kepada keluarga mempelai wanita. Di malam hari, nasi sapek disajikan untuk kedua pasangan mempelai yang di sertai dengan canda tawa para ibuk ibuk atau wanita yang belum menikah sebagai bentuk penghargaan dan tanda dukungan di terimanya pernikahan ini.

References

Abdullah, T. (1970). Adat dan Islam: suatu konflik integratif. Jakarta: Rajawali Press.

Alhazmi, A. (2020). Cultural symbolism and social meaning in traditional food rituals. Asian Journal of Cultural Studies, 12(2), 143–157.

Amir, M. S. (2005). Adat Minangkabau: Pola dan Struktur Sosialnya. Jakarta: Balai Pustaka.

Anderson, B. (2006). Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. London: Verso.

Anggraeni, D. (2018). Representasi nilai budaya dalam tradisi lokal. Jurnal Antropologi Indonesia, 39(1), 45–58.

Basrowi & Sukidin. (2002). Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rineka Cipta.

Bourdieu, P. (1977). Outline of a Theory of Practice. Cambridge: Cambridge University Press.

Creswell, J. W. (2014). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (4th ed.). Thousand Oaks, CA: Sage.

Edi, R. (2012). Makna simbolik makanan dalam upacara adat Jawa. Humaniora, 24(2), 189–199.

Geertz, C. (1992). The Interpretation of Cultures: Selected Essays. New York: Basic Books.

Hamidy, U. (2003). Falsafah Hidup Orang Minangkabau. Padang: UNP Press.

Idrus, N. (2019). Perempuan dalam sistem matrilineal Minangkabau. Jurnal Sosiologi Reflektif, 13(1), 123–137.

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Kurniawan, A. (2017). Simbol makanan dalam konteks sosial budaya masyarakat Indonesia. Jurnal Masyarakat & Budaya, 19(3), 331–344.

Liliweri, A. (2014). Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya. Jakarta: LKiS.

Moleong, L. J. (2018). Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nasution, S. (2003). Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito.

Natsir, M. (2006). Minangkabau: Suatu Tinjauan Sejarah dan Budaya. Padang: CV. Media Grafika.

Nur, L. (2020). Relasi simbol dan kekuasaan dalam budaya lokal. Jurnal Ilmu Budaya, 18(2), 202–215.

Pranowo, T. D. (2010). Tradisi simbolik dalam kebudayaan Indonesia. Jurnal Filsafat, 20(3), 221–233.

Rahman, R. (2015). Bako dalam struktur sosial Minangkabau. Jurnal Antropologi Sosial Budaya, 2(1), 77–88.

Ritzer, G. (2010). Sociological Theory (8th ed.). New York: McGraw-Hill.

Said, E. W. (1978). Orientalism. New York: Pantheon Books.

Sairin, S. (2002). Konsep dan Metode Antropologi Budaya. Yogyakarta: ANDI.

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Wawancara dengan Makhfuz Idris (Tokoh Adat Nagari Rao Rao), 28 Februari 2025.

Downloads

Published

2025-07-30

How to Cite

Amalia, N., & Yulika, F. (2025). Tradisi Maanta Nasi Sapek Dalam Adat Pernikahan di Nagari Rao Rao Kecamatan Sungai Tarab Kabupaten Tanah Datar . Buletin Antropologi Indonesia, 2(3), 9. https://doi.org/10.47134/bai.v2i3.4726

Issue

Section

Articles

Similar Articles

You may also start an advanced similarity search for this article.