Mengkritik Pemerintah Melalui Video Klip Lagu Negri Ngeri Karya Band Marjinal

Authors

  • Mohammad Fadel Atmadiansyah Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
  • Ferry Adhi Dharma Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

DOI:

https://doi.org/10.47134/par.v3i3.5939

Keywords:

Semiotika , Charles Sanders Peirce, Kritik Sosial, Musik Punk, Marjinal, Sukatani, Komunikasi Visual, Budaya Populer

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna kritik sosial yang terkandung dalam lirik dan visual musik punk Indonesia, khususnya lagu Negri Ngeri karya Band Marjinal serta lagu Bayar Bayar Bayar karya Sukatani, menggunakan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce. Penelitian berfokus pada pengungkapan representamen, objek, dan interpretant yang membentuk pesan perlawanan terhadap ketidakadilan sosial, korupsi, represi aparat, kemiskinan, penggusuran, serta berbagai persoalan struktural yang dialami masyarakat marjinal di Indonesia. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan semiotika Peirce. Data diperoleh melalui analisis lirik lagu, visual video musik, dokumentasi, dan studi pustaka yang kemudian dianalisis menggunakan model triadik Peirce yang meliputi ikon, indeks, dan simbol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lirik-lirik seperti “bayar polisi”, “mau gusur rumah”, dan “negeri ngeri” berfungsi sebagai tanda yang merepresentasikan praktik korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, penggusuran paksa, dan ketimpangan sosial. Sementara itu, visual seperti tumpukan sampah, pekerja dengan laptop di lingkungan kumuh, serta konsumsi junk food di tempat pembuangan sampah memperkuat kritik terhadap modernitas semu, konsumerisme, kerusakan lingkungan, dan marginalisasi masyarakat kecil. Analisis menunjukkan bahwa semiotika Peirce mampu menjelaskan proses pembentukan makna secara lebih komprehensif melalui hubungan antara representamen, objek, dan interpretant sehingga menghasilkan kesadaran kolektif mengenai perlunya perubahan sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa musik punk tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media komunikasi kritis dan alat perlawanan sosial yang efektif dalam menyuarakan aspirasi kelompok marjinal di Indonesia.

References

[1] A. yogi Chairunnisa, Soraya lin, “Makna Perjuangan dalam Musik Video ‘Si Paling Mahir’ Karya Raisa: Analisis Semiotika Charles Sanders Pierce Chairunnisa1,” Media Komun. Ef., vol. 2, no. Volume 2, Nomor 2 Juli 2025., pp. 76–85, 2025.

[2] K. L. Matong, M. Robot, and K. B. Jama, “Analisis Lirik Lagu PEDE Karya P. Armin Sunarto, Cs (Kajian Semiotika Charles Sander Peirce),” Bianglala Linguist. J. Linguist., vol. 11, no. 2, pp. 67–74, 2023, doi: https://doi.org/10.35508/bianglala.v11i2.15405.

[3] T. F. E. Simon Frith — Wikipedia, “Simon Webster Frith [ 1 ] OBE (lahir 1946).” Accessed: Jan. 22, 2026. [Online]. Available: https://en.wikipedia.org/wiki/Simon_Frith

[4] 2025. [Online]. Data Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia 2006-2025," Jakarta, Indonesia, “Badan Pusat Statistik (BPS).” Accessed: Jan. 22, 2026. [Online]. Available: https://www.bps.go.id/%5Blink-spesifik

[5] 2025. Badan Pusat Statistik (BPS), “Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia 2006-2025,” Jakarta, Indonesia, “Data Tingkat Pengangguran Terbuka ( TPT ) Indonesia 2006 – 2025,” p. 2025, 2025, [Online]. Available: https://www.bps.go.id/%5Blink-spesifik

[6] T. S. Johanes Gerung, Oldie S. Meruntu, “Representasi Perlawanan Mahasiswa Dalam Lirik Lagu Darah Juang Dan Pembebasan,” Vol. 3, No. 9, 2023.

[7] J. S. Enjelika Simamora, “Terhadap Pengangguran Di Sumatera Utara The Effect Of Economic Growth , Inflation , And Investment,” J. Ekon. dan bisnis, vol. 8, no. 1, pp. 1–12, 2025.

[8] M. F. Aziz, Representasi perlawanan sipil dalam lirik lagu tantang tirani : analisis semiotika charles sanders peirce. 2014.

[9] Bagus Septiyanto Firdaus and Khamdan Syakuro, “Kritik Atas Kesenjengan Sosial Dalam Lagu ”Negri Ngeri” Karya Marjinal,” Simpati, vol. 1, no. 2, pp. 91–101, 2023, doi: 10.59024/simpati.v1i2.160.

[10] D. Hariyanto, F. A. Dharma, I. Yussof, and F. Muharram, “The Hyperreality of Identity Politics on Social Media,” Commun. J. Ilmu Komun., vol. 8, no. June, p. 20, 2024, doi: 10.15575/cjik.v8i1.28356.

[11] G. B. Agung, Y. P. Lian, and F. Ceunfin, “Tindak Tutur Sebagai Kritik Sosial Dalam Lagu ‘ Bayar Bayar Bayar ’ Karya Band Sukatani,” vol. 10, no. April, pp. 61–69, 2025.

[12] C. S. Peirce, The Collected Papers of Charles Sanders Peirce. Harvard University Press. [Online]. Available: https://openlibrary.org/works/OL34594340W/Collected_Papers_of_Charles_Sanders_Peirce?utm_source

[13] S. Bastra, “Volume 3 Nomor 1 Edisi Juni 2015 ISSN 2354-7200 Sirok Bastra Jurnal Kebahasaan dan Volume 3 Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung Volume 3 Nomor 1 Edisi Juni 2015 ISSN 2354-7200,” vol. 3, 2015.

[14] channel alerta Jurnal, “Marjinal Negri ngeri official youtube,” https://youtu.be/rhoROXVHeLQ?si=FNyKajtHvf2a9Hzh.

[15] A. W. P. Syamsul Arifin, Azmia Mar’Atul Latipah, Amara Rahma Fadilah, Rizka Nurziah Syabani, Dandi Mardiansyah, Raffi Yugistia Bima, “Jurnal Bastra ( Bahasa dan Sastra ),” vol. 10, no. 3, pp. 800–811, 2025.

[16] F. A. Dharma, “Mengelolah Interaksi Antar Budaya Dan Prasangka Masyarakat Indonesia,” J. Islam. Econ. Soc., vol. 2, no. 2, pp. 15–33, 2019.

[17] B. Faris, “Kritik Sosial Pada Lirik Lagu,” Bandung Conf. Ser. Public Relations, vol. 3, no. 2, pp. 549–553, 2023, doi: 10.29313/bcspr.v3i2.8138.

[18] A. Bennett, “Punk’s not dead: The continuing significance of punk rock for an older generation of fans,” Sociology, vol. 40, no. 2, pp. 219–235, 2006, doi: 10.1177/0038038506062030.

[19] D. Hebdige, Subculture: The Meaning of Style. London, U.K.: Routledge, 1979, doi: 10.4324/9780203139943.

[20] K. Dunn, “Never mind the bollocks: The punk rock politics of global communication,” Review of International Studies, vol. 34, suppl. 1, pp. 193–210, 2008, doi: 10.1017/S0260210508008064.

[21] J. Street, “Fight the power: The politics of music and the music of politics,” Government and Opposition, vol. 38, no. 1, pp. 113–130, 2003, doi: 10.1111/1477-7053.00109.

[22] L. C. Way, “Punk, politics and resistance,” Popular Music and Society, vol. 43, no. 4, pp. 409–426, 2020, doi: 10.1080/03007766.2019.1676348.

[23] N. Fairclough, “Critical discourse analysis and critical policy studies,” Critical Policy Studies, vol. 7, no. 2, pp. 177–197, 2013, doi: 10.1080/19460171.2013.798239.

[24] A. L. M. S. Leão and S. C. B. Mello, “The means-end approach to understanding customer values in punk subculture,” BAR - Brazilian Administration Review, vol. 4, no. 1, pp. 1–17, 2007, doi: 10.1590/S1807-76922007000100002.

[25] D. Machin, “Analysing popular music: Image, sound and text,” Media, Culture & Society, vol. 32, no. 4, pp. 623–639, 2010, doi: 10.1177/0163443710361650.

Downloads

Published

2026-06-15

How to Cite

Atmadiansyah, M. F., & Dharma, F. A. (2026). Mengkritik Pemerintah Melalui Video Klip Lagu Negri Ngeri Karya Band Marjinal. Indonesian Journal of Public Administration Review, 3(3), 117–128. https://doi.org/10.47134/par.v3i3.5939

Issue

Section

Articles

Similar Articles

<< < 1 2 3 4 5 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.