Implementation of Compulsory Defence In The Indonesian Criminal Justice System: A Normative Analysis and Study of Court Decisions
DOI:
https://doi.org/10.47134/ijlj.v3i2.5273Keywords:
Crime, Defence, Justice, Noodweer, ProportionalityAbstract
Necessary defence is a criminal defence that plays an important role in Indonesian criminal law, especially amid increasing public vulnerability to the threat of crime. Although it is regulated in Article 49 of the Criminal Code and reinforced by Article 34 of Law Number 1 of 2023, its application in practice still faces various problems. The main problem lies in law enforcement officials' assessment of the elements of forced defence, such as proportionality, immediacy, inability to avoid, and the psychological condition of the perpetrator, which often leads to the criminalisation of defensive actions that should be lawful. This study uses a normative juridical approach with case studies of Donggala District Court Decision Number 32/Pid.B/2021, Sinjai District Court Decision Number 101/Pid.B/2024, and the Amaq Sinta case to examine the consistency of the application of forced defence in judicial practice. The results of the study show that the application of noodweer is highly dependent on the objectivity of investigators and the thoroughness of judges in understanding the factual context and the dynamics of the threat faced by the perpetrator. Differences in understanding among officials often create a gap between legal norms and law enforcement practices. Therefore, standardised interpretation, clear technical guidelines, and capacity building for officials are needed so that self-defence can realise substantive justice and effective protection of the right to life and safety of individuals.
References
Alfathan, M. H. F., Taufiqurrahman, M., & Putra, A. F. (2025). Analisis hukum unsur pembelaan terpaksa atau membela diri dalam hukum pidana. Jurnal Multidisiplin Ilmu Akademik (JMIA), 2(3), 118–130. https://doi.org/10.61722/jmia.v2i3.4562
Ali, T. M. (2023). Kepastian hukum penghentian penyidikan oleh pelaku tindak pidana pembunuhan yang didasari pada tindakan pembelaan terpaksa yang melampaui batas (Noodweer Exces). Jurnal Ilmiah Metadata, 5(2), 167–182. https://doi.org/10.47652/metadata.v5i2.377
Amalia, M., Gani, S., Triyono, S., Hartawan, H., & Upara, A. R. (2025). Hukum pidana: Asas-asas, teori, dan kasus (E. Efitra & N. Yunita (eds.); Cetakan 1). PT Sonpedia Publishing Indonesia. https://shorturl.at/MSTKQ
Aziz, L., & Ridwan. (2025). Dinamika kriminalitas dalam masyarakat (faktor sosial dan solusinya). Jurnal PKM Merah Putih, 1(1), 33–43. https://ejournal.stembi-alaziziyah.ac.id/index.php/jpkmmp/article/view/17/5
Bahri, S. (2021). Problema dan solusi peradilan pidana yang berkeadilan dalam perkara pembelaan terpaksa. Jurnal Wawasan Yuridika, 5(1), 131–148. https://doi.org/10.25072/jwy.v5i1.415
Barus, A. D. P., Fazira, N. N., Wibowo, I. H., Turnip, M. F. A. S., & Arifin, M. (2025). Alasan pemaaf dan pembenar. Jurnal Sahabat ISNU-SU (JSISNU), II(I), 17–22. https://journal.isnu-sumut.org/index.php/jsisnu/article/view/731
Berita. (2025). Mengungkap peta kejahatan 2025: Tantangan keamanan di kota besar Indonesia. Secom. https://shorturl.at/KU9Aa
Claudio Jap, C., & Rahaditya, R. (2024). Implementasi pembelaan terpaksa (Noodweer) sebagai alasan penghapus pidana dalam kasus penganiayaan. Ranah Research: Journal of Multidisciplinary Research and Development, 7(1), 657–666. https://doi.org/10.38035/rrj.v7i1.1301
Dengah, R. T., Pongoh, J. K., & Sepang, R. (2024). Noodweer exces sebagai salah satu alasan peniadaan pidana. Jurnal Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi, 13(3), 1–21. https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/lexprivatum/article/view/54842
Fadhilah, A. P. (2025). Analisis kasus pembelaan terpaksa oleh Amaq Sinta sebagai alasan pembenar (Noodweer). RECIDIVE: Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan, 14(2), 154–163. https://doi.org/10.20961/recidive.v14i2.98960
Gani, I. A., & Ansar, M. A. (2025). Pengantar hukum pidana (teoritis, prinsip, dan implementasi KUHP Baru UU No. 1 Tahun 2023) (Nirmawati & M. A. H. Sultan (eds.); Cetakan 1). Widina Media Utama. https://shorturl.at/LuOCK
Hadi Saputra, G., & Ifrani. (2025). Surat perintah penghentian penyidikan (SP3) terkait kasus pembelaan terpaksa yang melampaui batas dalam perspektif praperadilan. Jurnal Kolaboratif Sains, 8(8), 5654–5662. https://doi.org/10.56338/jks.v8i8.8096
Heatubun, L. H. R., Sabila S, M., Risqullah H, M. I. M., & Irawan, F. (2022). Tindakan noodweer exces dalam tindak pidana pembunuhan sebagai bentuk mempertahankan diri, harta, dan kehormatan. Journal of Law, Administration, and Social Science, 2(2), 91–99. https://doi.org/10.54957/jolas.v2i2.176
Kermite, D. P., Kermite, J. A., & Tawas, F. (2021). Kajian terhadap pembelaan terpaksa (Noodweer) dalam tindak pidana kesusilaan berdasarkan Pasal 49 Ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Lex Privatum, IX(4), 139–146.
Krismen, Y. (2021). Sistem peradilan pidana Indonesia (D. Safitri (ed.); Cetakan 1). PT Rajagrafindo Persada. https://shorturl.at/NEnlH
Labibah, B. S., & Mahardhika, V. (2025). Analisis yuridis pembelaan terpaksa yang melampaui batas (Noodweer Exces) pada Pasal 49 Ayat (2) KUHP dalam perkara tindak pidana penganiayaan (Putusan Nomor 33/PID.B/2024/PN Bir). Indonesian Journal of Contemporary Law, 1(3).
Laksana, H. Y. A., & Yusuf, H. (2025). Kajian analisis sifat-sifat kepribadian (personality characteristics) pelaku kejahatan ditinjau dari ilmu kriminologi. Integrative Perspectives of Social and Science Journal (IPSSJ), 2(2), 2716–2724. https://ipssj.com/index.php/ojs/article/view/363
Latubara, G., & Simangunsong, F. (2023). Pembelaan terpaksa melampaui batas (Noodweer Exces) dalam sistem peradilan hukum di Indonesia terkait penganiayaan berat. Research Journal of Social Science and Economics, 2(1), 1–11. https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/rejosse/article/view/8530
Lintang, I. (2024). Data: Tingkat kriminalitas di Indonesia, Januari 2023–April 2024. Inilah.com. https://www.inilah.com/tingkat-kriminalitas-di-indonesia
Maulida, K. (2025). Kriminalitas dan hukum: Perspektif sosiologi terkait kontrol sosial dan hukum. Jurnal Hukum Caraka Justitia, 5(1), 14–28. https://doi.org/10.30588/jhcj.v5i1.2054
Maulidah, K., & Hengki, M. R. (2023). Tinjauan yuridis terhadap pembelaan terpaksa sebagai alasan penghapus pidana. Jurnal Serambi Hukum, 16(02), 89–100. https://doi.org/10.59582/sh.v16i02.718
Naufal Asshadiqie. (2023). Analisis yuridis penerapan Pasal 49 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang pembelaan terpaksa yang menyebabkan kematian. PESHUM: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora, 2(5), 932–938. https://doi.org/10.56799/jceki.v4i1.7091
Patmawanti, B. (2023). Kriminologi (R. A. Mulia (ed.); Cetakan 1). CV Eureka Media Aksara. https://shorturl.at/CApC1
Rasiwan, I. (2025). Dinamika sistem peradilan pidana Indonesia (T. Yuwanda (ed.); Cetakan 1). Tazaka Innovatix Labs. https://shorturl.at/W7nI3
Rasji, Aurelia, J., & Rudijanto, M. N. (2024). Pemikiran filsafat hukum tentang keseimbangan kebebasan individu dan keamanan nasional dalam hak asasi manusia. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 10(8), 823–837. https://doi.org/10.5281/zenodo.11118716
Refin, F. R., & Nur Azizi, S. D. (2023). Dasar hukum pembelaan terpaksa (Noodweer) dan pembelaan terpaksa melampaui batas (Noodweer Exces). Jurnal Fundamental Justice, 4(2), 13–15. https://doi.org/10.30812/fundamental.v4i2.3277
Rinaldi, K. (2022). Dinamika kejahatan dan pencegahannya: Potret beberapa kasus kejahatan di Provinsi Riau (Y. Umaya (ed.); Cetakan 1). Ahlimedia Press. https://shorturl.at/4gW4I
Rizal, M., Hatta, M., Sumiadi, Zulfan, & Husni. (2024). Perlindungan hukum terhadap upaya pembelaan diri korban tindak pidana pembunuhan. Cendekia: Jurnal Hukum, Sosial & Humaniora, 2(4), 890–908. https://doi.org/10.5281/zenodo.14545856
Safira, M. E., & Rachmawati, A. (2023). Model sistem peradilan dalam mewujudkan kepastian hukum dan keadilan di Indonesia. Journal of Indonesian Comparative of Syari’ah Law, 6(1), 1–17. https://doi.org/10.21111/jicl.v6i1.9750
Sandia, A., Bakry, K., & Jamaluddin. (2024). Pembunuhan sebagai upaya pembelaan diri dalam pandangan hukum Islam dan hukum positif. Al-Qiblah: Jurnal Studi Islam dan Bahasa Arab, 3(4), 694–712. https://doi.org/10.36701/qiblah.v3i4.1666
Sandra, V. (2020). Analisis yuridis terhadap perbuatan pembelaan terpaksa sebagai alasan pemidanaan pidana [Universitas Islam Riau]. https://repository.uir.ac.id/12224/
Sanjaya, I. G. W. M., Sugiartha, I. N. G., & Widyantara, I. M. M. (2022). Pembelaan terpaksa melampaui batas (Noodweer Exces) dalam tindak pidana pembunuhan begal sebagai upaya perlindungan diri. Jurnal Konstruksi Hukum, 3(2), 406–413. https://doi.org/10.22225/jkh.3.2.4847.406-413
Saputra, E., Maryano, & Mau, H. A. (2025). Perlindungan hukum terhadap pelaku noodweer dalam tindak pidana pembunuhan. Journal of Innovation Research and Knowledge (JIRK), 4(10), 7493–7504. https://doi.org/10.53625/jirk.v4i10.9856
Setiawan, D., Juna, A. M., Fadillah, M. S., Oktarianda, S., Zulkarnen, Rizal, A., & Satrio, I. (2024). Prinsip proporsionalitas dalam penerapan hukuman pidana di Indonesia. JIMMI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Multidisiplin, 1(3), 266–278. https://doi.org/10.71153/jimmi.v1i3.144
Wibowo, R. I. (2022). Pembelaan terpaksa (Noodweer): Apakah bisa dipidana? Kementerian Keuangan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara. https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-palopo/baca-artikel/15466/Pembelaan-Terpaksa-
Yonatan, A. Z. (2025). Angka kriminalitas Indonesia tertinggi ke-2 di ASEAN. GoodStats. https://goodstats.id/article/jadwal-timnas-indonesia-u-22-di-sea-games-2025-jalani-laga-penentuan-lawan-myanmar-u-22-gNfH2
Yulia, R., & Raymond, H. (2023). Penerapan alasan pembelaan terpaksa dalam tahap pra adjudikasi: Perwujudan efisiensi dan efektivitas penegakan hukum. Masalah-Masalah Hukum, 52(3), 301–311. https://doi.org/10.14710/mmh.52.3.2023.301-311
Zaidan, A. (2021). Kebijakan kriminal (Tarmizi (ed.); Cetakan 1). Sinar Grafika. https://shorturl.at/5MddN
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Kayla Andini Putri, Kuswandi

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.



